Apa yang akan kita lakukan ,
# sebelum berbelanja ?
# kirim surat ?
# ketika mau melangkah suatu kegiatan?
# Telah melakukan sesuatu ?
# dll
Ya.....semua memang dihasilkan dari pikiran.....yang tertuang dalam suatu bentuk konsep yang
yang telah kita pikirkan & akan kita lakukan.
Seberapa jauh sih pentingnya dari arti sebuah tulisan? Kemudian kenapa dan buat apa kita menulis?
# sebelum berbelanja ?
# kirim surat ?
# ketika mau melangkah suatu kegiatan?
# Telah melakukan sesuatu ?
# dll
Ya.....semua memang dihasilkan dari pikiran.....yang tertuang dalam suatu bentuk konsep yang
yang telah kita pikirkan & akan kita lakukan.
Seberapa jauh sih pentingnya dari arti sebuah tulisan? Kemudian kenapa dan buat apa kita menulis?
namun,ada sedikit yang menarik menjawab pertanyaan tersebut. Dari sebuah pengalaman intelektual & masyarakat ada dua pameo yang diyakini benar,
yaitu publish or perish (publikasikan atau minggirlah)
Seperti yang terjadi dlm suatu komunitas masyarakat,media,& intelektual people ,maupun perguruan tinggi.
Maka kedua motto diatas mengisyaratkan bahwa warga masyarakat semestinya akrab dengan hal-ikhwal yang berkaitan dengan tulis-menulis, baik hendak dijadikan sebagai sumber pengetahuan ataupun sebagai prestasi. Sejauh ini, banyak pula orang yang sangat produktif menulis dan mempunyai kualitas tulisan yang amat bagus. Bahkan menulis dalam bentuk buku pun sudah sering dilakukan. Dari itu, mungkin tak heran bila sebagai contoh ,terkadang ada mahasiswa di lingkungan kampus lebih dikenal masyarakat daripada mahasiswa lainnya atau pengajar yang hanya mengandalkan ruang kelas semata.
Tetapi kadang muncul permasalahan yang kerap menjadi batu sandungan bagi seorang penulis. Yaitu bentuk apresiasi terhadap mahasiswa yang aktif menulis di media massa, tak ada sedikit pun penghargaan dari kampus, bahkan kampus sifatnya lebih acuh. Kurangnya penghargaan terhadap penulis mungkin sudah menjadi hal biasa dalam masyarakat kita.
Tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi dalam skala luas, negara, juga kurang memperhatikan para penulis yang ada di bumi pertiwi ini. Penulis besar sekelas Pramodya Ananta Toer, lebih banyak mendapat sanjungan dan penghargaan dari luar negeri daripada di negerinya sendiri. Perlu ditekankan, yakni bagi seorang penulis, penghargaan dalam bentuk apapun memang bukanlah hal yang paling utama. Mungkin kita perlu belajar dari sikap Jean Paul Sartre. Pasalnya, tokoh filsuf eksistensialis ini menolak segala penghargaan yang bakal diberikan pada dirinya meski ia telah melahirkan banyak karya yang mengagumkan.
Bagi yang mempunyai kemampuan menulis atau yang sering menulis tetapi belum pernah dimuat di media massa. Kini saatnya, bergegaslah untuk menulis terus-menerus dan tak ada lampu merah yang memberhentikan untuk menghasilkan tulisan. Tuangkan segala yang ada dalam benak dan kepala dalam tulisan. Tak perlu berdalih “aku tidak bisa”. Semuanya pasti bisa, jika ada kemauan dan keberanian untuk mencoba. Bukankah kegagalan dalam bereksperimentasi hal yang baik tidak berdosa?
Memang, begitu banyak orang mengatakan ingin menulis. Begitu banyak pula alasan yang mereka berikan untuk menjawab mengapa belum juga menulis. “Saya mesti menunggu mood kalau mau menulis” (ini dalih paling populer). “Saya terlalu sibuk, tidak punya waktu” (ini dalih khas dunia modern). “Saya tidak punya komputer/laptop. Masa sih saya harus mengetik di rental yang panas?” Sebetulnya, Tak ada alasan untuk tidak menulis.
Lakukan langkah seperti Pater Bolsius, SJ yang mengatakan, “if you don’t read, you don’t write” (kalau engkau tidak punya kebiasan membaca, engkau tidak bisa menulis). Seperti juga yang diungkapkan Robert Pinckret, dalam bukunya The Truth About English, “writing is thinking. If you can’t think you can’t write. Learning to think” (menulis adalah berpikir. Kalau Anda tak bisa berpikir, Anda tak bisa menulis. Belajar menulis berarti belajar berpikir).
Menulis adalah suatu kegiatan yang amat mulia. Dengan menulis, mungkin dapat dibaca oleh anak cucu kita bila kita meninggal kelak. Tetapi apa yang kita ucapkan dengan lisan, mungkin akan sirna dan lekang seiring dengan perkembangan zaman. Benar nasehat Pramoedya, dan bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan. Dengan begitu, menulis dapat memberikan kehidupan abadi. Dan tak kalah pentingnya, bahwa menulis dapat menampakkan diri kita, bahwa kita benar-benar ada, benar-benar hidup. “Aku menulis, maka aku ada”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar